Parade 1.350 Penenun Tradisional Ramaikan Alunan Budaya Desa 3 di Pringgasela

penenun pringgasela

Sumber: Sareh Erwin

Parade 1350 Penenun Tradisional Ramaikan Alunan Budaya Desa 3 di Pringgasela. Kreativitas anak-anak muda di Lombok memang patut diacungi jempol. Saya pernah menuliskan beberapa diantaranya, seperti: pemuda di Kerujuk yang mengelola desanya menjadi desa ekowisata, para penggiat sanggar seni gamelan Sasak di Darek, dan masih banyak lagi. Tapi dari semuanya, jujur saja saya paling salut dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak muda di Pringgasela. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Dimana baru-baru ini, mereka berhasil mengumpulkan ribuan, tepatnya 1.350 penenun tradisional untuk mengikuti parade dalam rangka kegiatan Alunan Budaya Desa 3 Pringgasela.

Saya pertama kali mengenal nama Pringgasela dari seorang teman semasa kuliah yang asli berasal dari sana. Dia menjelaskan bagaimana desa tempat tinggalnya tersebut. Tentang lokasinya yang masih merupakan bagian dari kaki-kaki Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Tentang para pemuda di sana yang sebagian besar adalah pendaki, berprofesi sebagai guide, senang mendaki dan berbagai hal lain yang sifatnya adventure. Tentang para perempuannya yang gemar menenun, dengan cara tenun pun teknik pewarnaan yang masih tradisional. Hingga tentang betapa kehidupan desanya yang penuh kreativitas. Dia, teman saya itu, menceritakan tentang sebuah event tahunan di Pringgasela, namanya Alunan Budaya Desa. Event hasil kreativitas para pemuda di Pringgasela. Yang tahun ini, memasuki tahun ke-3 penyelenggaraannya.

Alunan Budaya Desa 3 Pringgasela

penenun pringgasela

Sumber: Fikri Chili

Tahun 2017 merupakan tahun ke-3 diselenggarakannya event Alunan Budaya Desa. Sebuah event yang digagas oleh para pemuda dan masyarakat di Pringgasela, atau yang lebih akrab disebut Pringgos. Event yang menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang ada di Pringgasela ini selalu ramai setiap tahunnya. Tujuan digelarnya Alunan Budaya Desa tidak lain adalah untuk mengenalkan Pringgasela sebagai salah satu destinasi Desa Wisata di Lombok. Hayooo.. teman-teman yang sudah ke Lombok ada yang pernah ke Desa Pringgasela gak nih? Saya pribadi, baru 4 kali ke sana yang tujuannya adalah untuk mengenalkan objek wisata di Pringgasela ke teman-teman yang lagi pada berwisata ke Lombok.

Baca Juga: River Tubing Sungai Mencerit di Lombok Timur

Oh iya, adapun pertunjukan yang ditampilkan di Alunan Budaya Desa setiap tahunnya yaitu: pentas musik tradisional, festival gendang beleq, pameran hasil tenun dan produk kreatif lainnya, berbagai permainan tradisional serta masih banyak lagi. Yang berbeda pada gelaran Alunan Budaya Desa Pringgasela tahun ini adalah adanya parade dari 1.350 penenun tradisional yang ada di Pringgasela.

Parade 1350 Penenun Tradisional Ramaikan Alunan Budaya Desa 3 di Pringgasela

penenun pringgasela

Sumber: Lho Hans

Parade Penenun Pringgasela yang Tetap Meriah Walau Batal Pecahkan Rekor MuRI

Pagi itu, tepatnya Senin 11 September 2017, terletak di sekitar Tugu Mopra Pringgasela, ribuan penenun tradisional sudah siap mendemonstrasikan proses menenun di hadapan para penonton. Kebayang kan gimana ramainya? Selama ini mungkin belum banyak teman-teman yang tahu, bahwa Pringgasela merupakan salah satu daerah penghasil tenun di Lombok. Mau mencari tenun dengan pewarnaan yang alami? Cuss ke sini aja! Di sini, setiap kali kita berjalan ke kampung-kampung, bisa dipastikan para perempuan di tiap rumahnya adalah penenun. Mau ada wisatawan ataupun tidak, ya pekerjaan mereka memang menenun.

Baca Juga: Cantiknya Kain Tenun di Desa Pringgasela, Lombok Timur

Jadi bukanlah hal yang sulit bagi para pemuda di Pringgasela untuk mengumpulkan sebanyak 1.350 penenun pada parade tenun tersebut. Bahkan 2.000 pun bisa. Eh kok saya bahas ini? Yups, soalnya di media sosial pada ramai dibahas kalau parade penenun tradisional di Pringgasela digadang-gadang mampu memecahkan rekor MuRI. Namun kabarnya batal. Klarifikasi ya gaes, mereka para panitia lebih terkendala di urusan dana, bukan karena jumlah penenun yang kurang dari target. Catat ya. Mengingat MURI adalah sebuah lembaga nirlaba maka penyelenggara harus menanggung segala biaya yang timbul seperti akomodasi, transportasi dan biaya biaya lain hingga selesainya acara. Menurut mereka, para panitia, dibanding duitnya untuk hal tersebut, lebih baik dipakai buat para penenun. Apalah artinya sebuah rekor. Ya kan?

Kain Tenun, Warisan Budaya bagi Perempuan di Pringgasela

penenun pringgasela

sumber: Sareh Erwin

Saat pertama kali ke Pringgasela dan diberitahukan oleh teman di sana bahwa selain berbagai kegiatan adventure, seperti river tubing, pendakian dan lainnya, hal menarik dari Pringgasela adalah saat wisatawan dapat melihat langsung rangkaian proses menenun yang dilakukan oleh para perempuan Pringgasela. Baik saat mereka menciptakan pola, melakukan pewarnaan secara alami, memintal benang pun proses inti yaitu menenun itu sendiri. Lalu saya bilang bahwa apa bisa saya melihat mereka sekarang? Teman yang hari itu bertugas menjadi guide kami tidak berani janji. Sebab seperti yang saya paparkan di atas bahwa kegiatan menenun di Pringgasela dilakukan apa adanya, bukan untuk ditunjukkan ke wisatawan, mereka menenun ya karena ingin menenun.

Pringgasela memang dikenal karena hasil kain tenunnya yang luar biasa. Bahkan bisa dikatakan bahwa kain tenun merupakan warisan budaya bagi setiap anak perempuan di Pringgasela. Perempuan? Asli Pringgasela? Tapi gak bisa menenun? Waduh, perlu dipertanyakan itu kemana aja selama ini. Hehehehe. Setiap anak perempuan di sana memiliki alat menenun tradisional yang disebut “sesekan”. Dimana kegiatan menenun digunakan sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang mereka. Inilah yang bikin saya suka sama Pringgasela, ya seru aja gitu saat kita keliling kampung dan melihat aktivitas mereka. Meskipun tentu saja gak semua rumah melakukan aktivitas menenun di waktu yang sama.

penenun pringgasela

Seperti saat saya keliling di sebuah pemukiman warga beberapa bulan yang lalu, di satu rumah ada yang sedang menenun, di rumah lain ada yang hanya alat menenunnya saja yang kita lihat (pemiliknya mungkin sedang beristirahat) serta ada pula yang suara kletak-kletak alat tenunnya hanya dapat kita dengar dari luar rumah (ini penenunnya agak pemalu kali ya, menenunnya di dalam kamar #ihik).

Parade 1350 Penenun Tradisional dan Kita Semua yang Berbahagia

penenun pringgasela

sumber: Sareh Erwin

Ya terus inti tulisan ini apa? Saya pribadi sih memang mau mengabadikannya menjadi postingan blog sebagai tanda salutnya saya sama usaha anak-anak muda di Pringgasela yang sudah mau repot-repot ngadain pagelaran keren seperti ini setiap tahunnya. Tapi setidaknya ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil dari gelaran Parade 1350 Penenun Tradisional di Alunan Budaya Desa 3 Pringgasela tersebut, yaitu:

  • Para pemuda di Pringgasela sudah melakukan usahanya dengan baik dengan mengadakan Alunan Budaya Desa hingga tahun ketiganya. Dimana tahun ini dititikberatkan pada event yang berkaitan dengan kain tenun.
  • Terkait parade 1.350 penenun yang gagal tercatat di Museum Rekor Indonesia (MuRI) tentu bukanlah masalah besar. Toh gagalnya bukan karena jumlah penenun yang tidak tercapai, melainkan lebih kepada pendanaan. Mencintai dan melestarikan budaya menenun hingga ke anak cucu kita itulah yang utama.
  • Harapan saya, dan mungkin juga harapan para pemuda serta masyarakat di Pringgasela, agar pada pelaksanaan event selanjutnya para pemerintah terkait (baik kabupaten maupun provinsi) dapat ikut andil mempromosikan dan mendukung kegiatan seperti ini, sehingga Pringgasela pun dapat dikenal luas baik oleh warga Lombok sendiri, maupun wisatawan di luar sana.
  • Yang terakhir, saran saya buat kalian yang mau berwisata ke Lombok, jangan sampai gak ke Pringgasela. Guidenya gak nganter kemarih? Minta dianterin! Ini tempat keren banget lho 😉

Oke, udah yaa.. ini postingan kok jadinya panjang benar. Pokoknya sukses terus buat anak-anak muda Pringgasela!

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

14 Comments

  • Dita Indrihapsari September 13, 2017 at 12:47 am

    Whoaah keren banget mba acaranya.. Suka banget aku liat foto penenun lagi aktivitas bareng. Ini yang gagas anak muda di sana aja, enggak sama pemerintah desanya ya? Aku belum pernah ke Lombok.. Semoga nanti bisa ada rezeki dan kesempatan ke sana.. 😀

    Reply
  • Maria G Soemitro September 13, 2017 at 4:37 am

    Waw andaikan letak Lombok amat dekat …. #nglamun 😊😊😊

    Reply
  • Okti September 13, 2017 at 5:57 am

    Kegiatan luar biasa ini. Indonesia benar2 kaya….

    Reply
  • Alris September 13, 2017 at 8:30 am

    Wow, amazing. Kegiatan langka dan bikin kagum.
    Syukurlah masih banyak masyarakat sana yang mempertahankan budaya luhung ini.

    Reply
  • Iqbal September 13, 2017 at 1:08 pm

    Semoga ke depannya ada support dr pemerintah sehingga rekor MURI yg diharapkan mampu diraih

    Reply
  • Laily September 13, 2017 at 2:52 pm

    Ooh, sayang bgt batal dpt rekor muri .
    Tapi, alasannya bisa dimaklumi juga.

    Reply
  • sulis September 13, 2017 at 7:02 pm

    Event kayak gini memang harus diselenggarakan ya mba.. Biar kekayaan lokal nggak ilang. Sebagai pengetahuan juga buat anak2 muda yang kadang udah mulai lupa sama kekayaan budaya negeri sendiri.

    Artikel yang menarik mba

    Reply
  • ernawati September 14, 2017 at 5:21 am

    Selalu kagum dengan kegiatan yang Indonesia banget. Tradisi masyarakat yang perlu dilestarikan.

    Reply
  • Prima Hapsari September 14, 2017 at 8:05 pm

    Penenunnya banyak banget mbak, sepakat sih sama panitia, mending dana untuk modal para penenun. Pengen banget punya kain Lombok, semoga suatu saat bisa piknik ke Lombok.

    Reply
  • nur rochma September 15, 2017 at 4:43 am

    Wow… Indonesia itu kaya ya! Ya alam, tradisi, budaya. Selalu kagum dengan budaya lokal.

    Reply
  • Ade UFi September 18, 2017 at 4:45 pm

    Waaah kereeen. Nggak kebayang kalau saya ada di lokasi parade. Pasti seru dan meriah ya. Sayangnya gagal masuk rekor muri ya. Benerlah yg penting budaya tradisionalnya bisa melekat ke anak cucu.

    Reply
  • Hastira September 18, 2017 at 7:21 pm

    wow amazing, coba kalau aku ada di sana

    Reply
  • Tuty Queen September 19, 2017 at 2:35 am

    Keren banget eventnya…aku suka kain tenun pengen lihat pembuatannya langsung

    Reply
  • Doni Nurdiansyah September 19, 2017 at 5:01 am

    Keren banget acaranya mbak,,,meriah banget liatnya,.

    Reply

Leave a Comment