Fenomena Pengendara Motor di Bawah Umur

Lahan parkiran milik salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di kota Makassar ini tak pernah terlihat sepi. Kebetulan sekolah tersebut letaknya berhadapan dengan bangunan sekolah saya. Jadi, mau tidak mau pemandangan seperti itulah yang setiap hari saya dapatkan sewaktu masih duduk di bangku SMA.

Kendaraan bermotor yang berupa mobil memang tak banyak jumlahnya. Paling hanya empat unit saja. Mungkin pemiliknya adalah kepala sekolah, atau petinggi-petinggi sekolah itu. Tapi bagaimana dengan sepeda motor? Aih, jangan ditanya. Entah ada berapa, saya juga tidak pernah benar-benar menghitungnya. Parahnya lagi, penggunanya sebagian besar adalah siswa-siswa yang bersekolah di SMP tersebut. Siswa usia SMP mengendarai kendaraan bermotor? Zaman saya SMP dulu, motor hanyalah dimiliki oleh para guru yang tentunya sudah cukup usia pun sudah memenuhi syarat untuk mengendarainya.

Utamakan Keselamatan Berlalulintas!

Bagaimana ceritanya siswa-siswa yang masih duduk di bangku SMP bisa mengendarai motor? Mengingat usia standar mereka adalah antara 12 hingga 16 tahun. Perkiraan usia itu sudah termasuk yang masuk SD di usia 6 tahun dan mungkin saja ada yang tinggal kelas hingga pada usia 16 tahun masih duduk di bangku SMP. Apakah mereka sudah mengantongi surat izin mengemudi? Kalau tidak, berarti mereka sudah melanggar peraturan Pasal 77 Ayat (1) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan.

Kalaupun mereka sudah memiliki Surat Izin Mengemudi, saya tidak percaya bahwa surat itu didapatkan dengan cara yang benar. Melihat kembali pada rentang usia mereka yang saya sebutkan di atas. Seorang anak berusia 12 hingga 16 tahun tidak mungkin memiliki SIM. Seperti yang dijelaskan pada Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa ada syarat usia minimal seseorang untuk memperoleh surat izin mengemudi. Berbicara mengenai sepeda motor, pengendaranya diwajibkan untuk mengantongi SIM C dan hanya mereka yang telah berusia 17 tahun yang bisa memiliki surat izin mengemudi tersebut. Pernah saya menanyakan hal ini pada seorang teman saya sewaktu masih kelas 1 SMA, saat itu usianya belum sampai 17 tahun, tapi lihatlah dia sudah memiliki SIM. Saat saya tanya mengapa dia sudah punya SIM sedangkan usianya belum mencapai syarat minimal, dengan santainya ia jawab ah, gampang kok..kan bisa bisa curi umur. Curi umur? istilah dari mana lagi ini?

Rupanya dengan ‘bayaran’ tertentu kartu berwarna putih yang disebut SIM itu bisa dengan mudah didapatkan. Tidak peduli sudah mencapai syarat usia minimal atau tidak. Tidak penting si pengendara sudah paham betul aturan-aturan lalu lintas atau tidak. Bayar, dan SIM pun segera dibuatkan. Fenomena seperti ini seolah sudah menjadi rahasia umum. Kalau mau murah ya harus sesuai aturan, mau cepat ya bayar mahal! Entah siapa yang harus disalahkan. Si anak yang tidak sadar diri mengendarai motor di usia ‘dini’, orangtua yang terlampau cinta sehingga membelikan si anak kendaraan bermotor itu, para dealer yang bertebaran menawarkan cara mudah memperoleh motor dengan uang muka rendah, ataukah aparat kepolisian yang pura-pura lupa akan aturan. Sungguh miris melihatnya, mengingat kebanyakan korban kecelakaan lalu lintas adalah mereka yang masih ‘di bawah umur’.

Pada berita yang ditayangkan tanggal 15 Oktober 2010 di halaman fajar online, Kasat Lantas Polrestabes Makassar AKBP Muhammad Hidayat SIK yang diwawancarai menginformasikan bahwa kasus kecelakaan meningkat karena kendaraan semakin gampang didapatkan, siswa SMP pun sudah banyak yang berkendara, padahal belum cukup umur, itu pelanggaran. Data tahun 2010 saat itu disebut sudah ada 138 orang yang tewas karena kecelakaan. Sebanyak 52 persen korban kecelakaan berusia di bawah 30 tahun, dan 75 persen kecelakaan tersebut dialami oleh pengguna sepeda motor.

Sementara pada situs Komisi Kepolisian Indonesia diberitakan bahwa sejak diadakannya Operasi Zebra tanggal 28 November 2011 lalu, dalam 10 hari sudah ada 3.696 kendaraan bermotor yang ditindak. Pelanggaran terbanyak dilakukan oleh mereka yang berusia antara 21 hingga 30 tahun dan yang perlu diperhatikan bahwa urutan kedua ditempati oleh mereka yang berusia di bawah 17 tahun, yakni sebanyak 1.000 pelanggaran.

Aneh saja melihatnya, anak usia SMP sudah lalu lalang di jalan. Belum lagi kalau ada diantara mereka yang ikut dalam geng balapan liar dan sejenisnya. Mereka seolah cuma tahu, sudah punya SIM C berarti sudah seenaknya bisa mengendarai motor. Seandainya saja mereka tahu surat izin mengemudi sungguh tidak boleh didapatkan dengan cara ‘curi umur’ plus memberikan ‘uang rokok’ pada aparat. Iya, tidak segampang itu. Ada aturannya! Ah, apa mereka tahu? Apa mereka pernah baca? Padahal sudah disebutkan pada Pasal 81 Ayat (2), (3), (4), dan (5) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa syarat permohonan SIM perseorangan adalah sudah mencapai syarat usia minimal, memiliki kartu tanda penduduk dan beberapa syarat administratif lainnya, sehat jasmani dan rohani (dibuktikan oleh surat keterangan dokter dan surat lulus tes psikologis), kemudian yang terakhir ada lulus ujian.

Tidak tahu kan kalau membuat SIM itu pakai ujian-ujian segala? Bagaimana mau tahu kalau cuma pikir yang gampang saja. Sedangkan para aparat yang sudah tahu saja tetap ‘pura-pura tidak tahu’ dengan menerima ‘bayaran lebih’ dari mereka. Setidaknya ada 2 (dua) jenis ujian yang diberikan bagi mereka yang mengajukan permohonan pembuatan SIM. Ujian tersebut adalah ujian tertulis dan ujian praktik atau keterampilan melalui simulator. Sekedar berbagi cerita, setahun yang lalu kakak ipar saya pernah mengajukan permohonan membuat SIM, sayangnya dia tidak lulus pada ujian tertulis. Mau tidak mau, dia sepertinya harus ‘belajar’ lagi. Jangan dikira hanya untuk lulus sekolah saja yang ada ujiannya. Mau dapat ijazah ya harus lulus ujian nasional. Mau dapat Surat Izin Mengemudi ya harus lulus ujiannya juga dong! 😉

Aih, semoga saja adik-adik SMP itu mau mengerti pun sabar diri untuk tidak mengendarai motor di usianya yang masih dini. Semoga orangtua tidak selalu berpikir bahwa menghadiahkan motor bagi anaknya adalah cara utama membahagiakan mereka. Semoga para dealer, penyedia kredit, dan yang sejenisnya tidak lagi gencar berjualan motor dengan harga murah (ini bagaimana caranya ya? -__-“) dan semoga aparat kepolisian makin sadar menegakkan aturan lalu lintas 😉 Kalau bukan kalian yang jadi teladan, siapa lagi? ;D

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

25 Comments

  • Abi Sabila December 8, 2011 at 3:29 am

    Ada beberapa sekolah di sekitar saya yang melarang anak didiknya membawa sepeda motor ke sekolah, tapi ternyata para murid tidak kehabisan akal. dari rumah mereka tetap membawa dan dititipkan di tempat penitipan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah. Dan memang nyata, kenyanyakan dari mereka mengendarai motor secara ugal-ugalan. Suka bertanya dalam hati, bagaimana jika motor itu dibeli dengan uang sendiri ya, lah wong masih dibelikan orang tua ( yang mungkin dibela-belain ngutang ) saja mereka sudah belagu seperti itu?

    Reply
  • amela December 8, 2011 at 6:15 am

    adek saya juga termasuk pelanggar. hehehe..
    sejak masuk SMA dan sekolah di kota dia bawa motor sendiri, padahal masih kurang 1 tahun lagi buat dapat sim..
    tapi kalau dibandingin sama saya,, lebih pinter adek saya bawa motornya..
    entah, rasanya bingung juga, mau dilarang bawa motor, tapi kasian juga.. jadiya cuma diwanti2 saja agar hati2
    pak polisi…pak polisi..
    tolong itu adeknya Amel…kakaknya udah ngaku tuh kalau adeknya melanggar ;D

    Reply
  • Persada December 8, 2011 at 7:18 am

    Kebayakan mereka ngurus SIM asal2an, asal jadi g mikir usianya cukup atau tidak 🙁
    istilahnya pada ‘curi umur’
    bayar lebih dari tarif ngurus SIM yang bener udah bisa ngantongin SIM deh..

    Reply
  • Mugniar December 8, 2011 at 9:45 am

    Anak SMA pun kalo belum masuk umurnya utk ngurus SIM ya jangan diperbolehkan bawa/pakai kendaraan yah. Bagaimana pun juga itu kan melanggar aturan …

    Eh, saya tadi cari2 tulisan, siapa tau ini limba apa. Kan biasanya saya dapat info lomba dari sini. Ternyata eh ternyata bukan lomba yah 😀
    Sip!
    Kan udah ada syarat minimal usianya yaitu 17 tahun untuk SIM C. Saya udah hapus halaman info lombanya, kakak..Capek sih nge-updatenya ;D
    BTW, coba deh klik gambar di atas..siapa tahu dapat info tentang tulisan ini #ihik

    Reply
  • ^omman December 8, 2011 at 9:51 am

    ahh … itulah ‘hebatnya negeri kita ini – semua produk hukum yg dibuat susah2 oleh para pakar hukum dan dengan susah payah pula di bahas dan di undang2kan oleh DPR (baca, besar biayanya) … dengan INDAH&MUDAHNYA dilanggar oleh WARGANEGARA negeri ini sendiri … 🙁
    Saya yang baca aja udah capek. Pasalnya ratusan euy! Bacanya aja capek, gimana ngerumusinnya yaa..haha

    Reply
  • mauna December 8, 2011 at 1:04 pm

    bener bun.jaman aku smp, anak didik ga ada yg boleh naik motor, mau 1 kilo mau 20 kilp jarak rumah sekolah tetap saja pake sepeda pancal… .
    Iya, saya juga dulu gitu. Ada sih yang pakai motor, itupun gak banyak. Paling yang kaya-kaya aja ;D
    Sepeda pancal? wah sepeda seperti apa itu? baru dengar..hehe

    Reply
  • Apikecil December 8, 2011 at 6:23 pm

    Dealer motor skrg juga memegang kendali nih dalam hal ini.
    masak kredit motor mudah banget sih caranya.. mau beli cash aja rumit..
    tiap hari, ada aja yg ngredit. Apalagi menjelang lebaran.
    trus, ada kebiasaan yang salah dan sudah membudaya.
    Tiap anak usia SMP hampir semua dibelikan motor.Aduhhh…
    Maap mbak, agak merintih disini…

    Reply
  • auraman December 9, 2011 at 12:27 am

    yah begitu lah sekarng mbak, hukum sudah bisa dibeli dengan uang padahal SIM itu merupakan bagian dari hukum kan, kasih aja deh beberapa ribu jadi deh SIM :D.

    Reply
  • bensdoing December 9, 2011 at 4:07 am

    penerapan “eksistensi” dri seorang anak yg disalahartikan oleh para ortu. Kebanyakan para ortu berasumsi utk mendidik anak berani, rasa percaya diri tinggi dengan memberikannya alat transportasi berupa sepeda motor, padahal masih banyak cara lain untuk mengembangkan rasa kepercayaan diri sang anak…!

    Reply
  • anto11bc-barkom December 9, 2011 at 7:19 am

    kayaknya UU tentang batasan umurnya mestin dirubah tuh, dan perketat proses pembuatan sim nya. Karena tanpa dirubah UU toh tetep aja anak-2 pada pake motor. Sebelum pembuatan sim diadakan pelatihan khusus buat anak2

    Reply
  • Asop December 9, 2011 at 7:25 am

    Jaman saya SMP dulu gak disediakan lahan parkir motor. Jadi, anak SMP gak bisa bawa motor.

    Nah, yang saya heran, di SMA parkir motor disediakan. Secara gak langsung sekolah mengijinkan siswa utk mengendarai motor. 🙁
    Jadi deh, anak kelas 1 SMA udah pada bawa motor. Padahal, SIM baru bisa didapatkan kalo udah punya KTP dan berumur 17 minimal. Coba, apakah anak SMA kelas 1 berumur 17 dan 18 tahun? 😆 Nggak dong, pasti anak kelas 1 SMA berumur 16 atau 15 tahun. Lho kok bisa bawa motor? Entah nyolong umur, SIM dan KTP nembak, atau memang umurnya tua pas masuk SMA. 😆

    Saya juga heran, sebuah anomali. 🙁

    Saya aja gak dibolehin naek motor selama SMA, selalu diantar jemput atau naik angkot. 😐

    Reply
  • miss 'U December 9, 2011 at 8:04 am

    wuii… disini jalanan kecil tapi motornya rameee banget deh tut… belum lagi di kawasan kantor saya, yang naik motor pada cilik cilik semua, mungkin masih SD deh, trus mana bawa motornya kencang trus badannya pake di liuk2in kayak pembalap GP itu di tikungan, yang bawa mobil yang pada ngeri -__-

    Reply
  • Pakde Cholik December 9, 2011 at 9:41 pm

    Banyak faktor penyebab kasus diatas termasuk kurangnya perhatian dari oangtua. Jika tahu anaknya masih dibawah umur seharusnya mereka dilarang mengendarai ranmor.

    Petugaspun kurang tegas melakukan tindakan terhadap pelanggar.

    Ulasan yang bagus.

    Salam hangat dari Surabaya

    Reply
  • lozz akbar December 10, 2011 at 2:55 am

    setuju dengan pakdhe, orang tua salah. oknum aparat salah. dealer salah. saya juga salah karena gak punya SIM.. besok jalan kaki aja deh 🙂

    Reply
  • Blog Teknik IT December 11, 2011 at 11:40 am

    Jangankan SIM ya, KTP aja sekarang bisa nembak. Kalo bisa sih mending nembak gaji aja ya, berapa maunya dikasih…

    Reply
  • Fier December 12, 2011 at 3:34 am

    coba aja jalan ke SMP, pasti motor pada berjejer smoa..
    padahal umur aja blom nyampe untuk dape SIM..
    saya aja sampe SMA ga bawa motor ke sekolah, turut aturan sih *gubrak*..hehehe, padahal ada motor dirumah.

    artikel yang bagus..
    sangat bagus malah..
    like this lah!

    Reply
  • dihas December 22, 2011 at 8:11 am

    operasi zebra lebih zebra dari operasi yg biasa-biasa itu tu…
    😛

    sebenarnya kalo menurut saya,,itu salah orangtua,,knp diajarin naik motor kalo anaknya masih SD,,biar gaya..??
    gaya apaan..
    kalau yang ngajarin naik motor bukan orangtuanya gimana dong?
    ;p
    operasi zebra emang zebra banget tuh! tapi sayangnya saya gak terjaring dong.. *tumben

    Reply
  • onesetia82 December 23, 2011 at 1:26 pm

    berknjung kesini untuk menyapa sahabat . . .
    salam kenal . . . 🙂
    salam kenal juga, onesetia82
    *namanya ribet*

    Reply
  • tidar January 12, 2012 at 7:26 am

    kalau terjadi kecelakaan, saya cenderung menyalahkan orang tuanya yg membiarkan si kecil mengendarai motor …

    Reply
  • Kaget February 4, 2012 at 5:19 am

    Zamannya saya dulu lebih aman, siswa smu pun jarang menggunakan sepeda motor, tak seperti sekarang yang anak SD dibiarkan membawa motor,…. hebatnya pakai gaya Rossi pula 🙁

    Reply
  • Faris February 27, 2012 at 12:51 pm

    waduh , saya kelas 2 sma aja baru latian motor ….

    Reply
  • My Journal March 5, 2012 at 7:45 pm

    Harus ada kerjasama tuh antara pihak sekolah, kepolisian dan wali murid. SMP pake motor gak layak banget deh..

    Reply
  • soqi October 15, 2012 at 12:47 pm

    Temen ane ada yg 1 smp bawa mobil ke sekolah…sama adeknya pulak

    Reply
  • N. Firmansyah (@nfirmansyah_) October 8, 2015 at 10:38 am

    Yak, di kota besar masih mending karena kelengkapan kendaraan masih lengkap lah ya. Di kampung-kampung, tidak ada kelengkapan kendaraan sama sekali. Bahkan, jangankan anak SMP, di kampung saya pernah papasan dengan anak berseragam SD boncengan tiga dengan motor Supra Fit. Hebat? Sangat.

    Reply

Leave a Comment