Dear Pahlawanku: Prof. Sedjawidada

Assalamu’alaikum Wr.Wb..

Apa kabar, prof? Kabar terakhir yang saya dengar, prof sakit dan sedang menjalani perawatan di Jakarta. Semoga itu hanya kabar masa lalu ya, prof. Saya mau prof sehat, prof kembali ke Makassar, dan iya..karena saya memang ingin bertemu dengan prof. Prof belum tahu kan kalau saya sudah dinyatakan sembuh tepat pada tanggal 27 Agustus 2011. Paru-paru saya sudah bersih, prof. Sekarang saya sudah bisa menelan, tidak sesak napas, tidak penuh keringat lagi saat malam menjelang dan badan saya sudah tak sekurus dulu lagi. Sudah tidak ada lagi kewajiban minum rimstar atau rimactazid setiap hari. Semua sudah normal, prof. Alhamdulillah, atas izin Allah saya sembuh dari penyakit TBC. Penyakit yang mengerikan yang saya benar-benar tidak menyangka akan menghampiri saya. Kesembuhan yang bermula dari kecerdasan yang diberikan Allah kepada seorang Prof. dr. R. Sedjawidada, Sp.THT-KL(K). Aih, nama prof panjang sekali ya? ;D

Sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya, prof? Saya kangen sama prof. Seandainya prof ngeblog, prof mungkin akan nyasar di postingan ini. Bagi saya prof itu pahlawan. Berlebihan? Ah, tidak. Prof memang pantas disebut pahlawan. Prof benar-benar cerdas, tak salah jika banyak gelar yang berdiri di kiri-kanan nama prof. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau saat itu penyakit ini tidak cepat ditangani prof. Tapi Allah memang masih kasih saya kesempatan untuk hidup-untuk banyak beramal.

prof sedja*

*sumber: med.unhas.ac.id/iptht

Prof masih ingat tidak saat pertama kali prof periksa saya. Kesan pertama yang saya tangkap: prof itu cerdas tapi galak! Hihi…bukan galak sih, mungkin lebih tepat disebut tegas. Prof tidak suka perawat yang lambat dalam bertindak, pasien yang tidak jelas kalau ngomong (saya kah? hahaha), dan macam-macam dah pokoknya. Prof benar-benar cerdas! Saya sudah mendatangi empat orang dokter spesialis THT sebelumnya, tapi apa yang terjadi? Mereka semua malah mundur teratur karena takut menangani penyakit saya. Takut kalau akan berdampak buruk pada janin berusia 6 bulan yang sedang saya kandung. Belum lagi ada salah seorang dari keempat dokter tersebut yang mengatakan pada suami saya bahwa hanya salah seorang yang bisa diselamatkan, saya atau si bayi. Memangnya dia Tuhan -__-“

Saya ingat sekali waktu itu prof mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang penyakit ini. Pelan-pelan saya berbicara karena ada rasa nyeri pada bagian tenggorokan, prof sabar mendengarkan. Kalau dokter-dokter lain selesai endoskopi langsung menyatakan ada ‘daging kecil’ di dalam hidung saya dan mengatakan saya seperti mengidap kanker, yang perkataan mereka itu akhirnya malah bikin saya tambah parah.. prof malah sebaliknya. Prof langsung berpikir bagaimana agar saya bisa menelan dulu, bagaimana supaya saya bisa gemuk, bagaimana supaya bayi yang saya kandung terpenuhi nutrisinya. Awalnya saya heran, kenapa prof tidak memberi saya obat ‘minum’ yang banyak seperti dokter lainnya. Ah, rupanya prof sudah pelajari baik-baik mana obat yang aman untuk kandungan saya, mana yang tidak. Jadilah saat dirawat di rumah sakit selama 11 hari itu saya lebih sering mengkonsumsi obat suntik dibanding obat yang diminum.

Setiap saat prof selalu mengecek apakah saya sudah bisa menelan atau tidak. Jadwal kunjungan dokter memang hanya sekali dalam sehari. Tapi prof sering menelepon bagian keperawatan untuk memastikan kondisi saya. Saya bisa menelan makanan adalah kabar baik yang sangat ingin prof dengar. Dan kabar itu memang benar terwujud dan akhirnya dikabulkan oleh Allah sehari setelah pemeriksaan pertama saya di ruangan praktik prof. Meski hanya makanan yang sudah lumat yang bisa saya telan saat itu. Hingga pada suatu waktu saya sudah mulai bisa menelan makanan padat lainnya bersamaan dengan selesainya prof meneliti sana-sini perihal penyakit apa yang saya derita. Saya kaget dengan tulisan di kertas itu. Tulisan yang diperlihatkan oleh seorang dokter spesialis penyakit dalam. Saya sedih? Jelas sedih, saya mengidap penyakit TBC saat sedang mengandung anak pertama saya. Saya tak begitu kenal dengan penyakit ini, prof. Pantas saja prof juga mengajak seorang dokter spesialis penyakit dalam -yang sama cerdasnya seperti prof- bernama dr. Haerani Rasjid, Sp.PD. K-GH (panjang juga kan namanya -__-“).

Ah, saya akhirnya tahu apa itu TBC. Saya sudah siap untuk dijauhi orang-orang,prof. Kata dr. Haerani, kalau pengobatannya berhasil, saya bisa sembuh dalam waktu 6 bulan, jika tidak.. mungkin 9 bulan. Eh..atau apa ada opsi lain? saya juga tidak tahu. Perawat-perawat yang datang ke ruangan saya sudah pada pakai masker semua, beberapa malah seperti jaga jarak. Saya pikir di hari-hari selanjutnya saya memang harus mulai tidak berdekatan sama siapa saja, bahkan sama keluarga saya. Penyakit ini menular lewat udara. Saya tidak mau mereka juga nantinya merasakan hal yang sama. Tapi siapa yang bisa melarang cinta seorang suami pada istrinya, dan seorang bunda pada anaknya? Mereka berdua yang setia merawat saya ini pahlawan. Suatu saat akan saya ceritakan. Prof juga pahlawan, ah iya! dr.Haerani juga. Saat dekat sama saya, prof tidak pernah sama sekali melindungi diri. Pakai masker misalnya.. “Bukan hanya kamu yang sakit seperti ini, di sana di Amerika atau di negara mana saja banyak yang kena..Jangan patah semangat ya! Insya Allah, kamu pasti sembuh!”. Saya selalu ingat waktu prof katakan hal itu, prof bicara dengan suara yang tegas sambil memegang kuat kedua pundak saya.

Ketika ayah saya datang menjenguk dan bertemu prof, berbincang-bincang sebentar dan kemudian mengetahui bahwa prof ternyata sudah berusia 70an tahun. Ayah saya bilang “Saya doakan semoga prof panjang umur. Amin” dan dengan tegasnya lagi prof jawab “Doakan saja dulu anaknya, pak. Doakan biar segera sembuh. Baru nanti doakan saya”.

sedja sehat kan,prof?^_^

Lalu bagaimana sekarang? Saya bahkan hanya bisa berdoa disaat prof sedang sakit seperti ini. Prof, penyakitnya tidak parah,kan? Prof, baik-baik saja kan? Saya benar-benar khawatir karena sebelumnya yang saya tahu prof dirawat oleh dr.Haerani.. tapi mengapa sekarang sudah sampai di Jakarta. Prof, cepat sembuh ya.. Kita belum pernah bertemu lagi setelah saya selesai diopname pada bulan Februari. Kita belum pernah berjumpa lagi setelah bayi yang engkau sayangi ini -yang dulu engkau khawatirkan sekali tak cukup nutrisi- lahir dengan selamat.. bayi itu sehat, prof! .. engkau bahkan belum tahu bahwa Ia bernama Sedja ^_^ย  Iya, prof.. namanya Sedja Haerani Putri Mustamar. Saya tidak tahu apa arti nama sedja, yang saya tahu.. atas izin-Nya saya diselamatkan pada detik-detik paling menyakitkan oleh seorang dokter bernama Sedjawidada. Saya diselamatkan oleh orang yang cerdas, yang cepat tanggap, yang….tidak akan pernah mungkin saya lupakan jasanya ๐Ÿ˜‰

Prof, sudah dulu ya.. Kabari saya kalau prof sudah sembuh. Beberapa bulan yang lalu Sedja sudah foto bareng dr. Haerani, aihh! tapi dia belum punya foto sama Prof. Sedja.. Ingat ya, prof. Kabari kami, kabari secepatnya.. Lekas sembuh, prof!

Wassalam,

-Mama Rani-

โ€œPostingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteriโ€

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

40 Comments

  • lozz akbar November 12, 2011 at 8:22 pm

    saya cuma check linknya dulu ya mbak Rani.. besok aja deh baca artikelnya.. udah mau subuh nih..

    Matur nuwun sudah berpartisipasi di gelaran kami. artikelnya sudah saya catat sebagai peserta ya ๐Ÿ™‚

    Reply
    • andyhardiyanti January 12, 2016 at 7:05 pm

      Iya, makasih Uncle Lozz ๐Ÿ˜‰

      (komentar kapan…dibalasnya kapan…)

      Reply
  • Adi November 13, 2011 at 2:59 am

    sukses ngontesnya ya!

    Reply
    • andyhardiyanti January 12, 2016 at 7:05 pm

      iya, mas Adi. Terima kasih sudah berkunjung ๐Ÿ˜‰

      (komentar kapanโ€ฆdibalasnya kapanโ€ฆ)

      Reply
  • Tutus November 13, 2011 at 3:20 am

    Wew.. Semoga pahlawannya cepat sembuh. ๐Ÿ™‚

    Reply
  • airyz November 13, 2011 at 10:11 am

    โ€œBukan hanya kamu yang sakit seperti ini, di sana di Amerika atau di negara mana saja banyak yang kena..Jangan patah semangat ya! Insya Allah, kamu pasti sembuh!โ€

    Kalau Allah sudah berkehendak, maka terjadilah.
    yang penting usaha ๐Ÿ™‚

    Reply
  • lozz akbar November 13, 2011 at 10:57 am

    wow.. semoga surat ini bisa dibaca juga oleh Prof Sedjawidada juga ya ๐Ÿ™‚

    semoga prof senantiasa diberi kesehatan oleh-NYA

    Reply
  • amela November 14, 2011 at 12:04 am

    aah. ternyata itulah asal mula nama rani.. ๐Ÿ˜€
    sukses buat kontesnya ya kak

    Reply
  • dienarifaah November 14, 2011 at 3:57 am

    Masya Allah..jadi ingat dulu waktu kecil kadang menemani nenek yang berobat di Prof Sedja, dari dulu pasiennya selalu banyak, hingga harus menunggu dan menghabiskan beberapa waktu shalat di masjid gubernuran. Ya, beliau dokter yang hebat, semoga cepat sembuh yah… Sehat terus buat Rani dan keluarga… ๐Ÿ™‚

    Reply
  • elaine November 14, 2011 at 5:40 am

    so sweet mbak, manis sekali tulisannya… ๐Ÿ™‚ mdh2an blio juga cpt sembuh.
    โ€œDoakan saja dulu anaknya, pak. Doakan biar segera sembuh. Baru nanti doakan sayaโ€.
    care banget yahhh

    Reply
  • niee November 14, 2011 at 1:32 pm

    waahh bener2 pahlawan bagi mbak ya.. Moga2 prof nya selamat dan kembali sehat agar bisa menyelamatkan jiwa2 lainnya yang diutus dari Tuhan ya Mbak ๐Ÿ™‚

    Reply
  • ada-akbar.com November 14, 2011 at 4:33 pm

    Kisah profesor yang menginspirasi. .
    Memang ada penyakit,pasti ada obatnya..smoga profesor berganti mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya..amin

    Reply
  • Mugniar November 14, 2011 at 4:59 pm

    Wow .. nama Rani dari nama beliau yah …

    Reply
    • Mugniar November 14, 2011 at 5:02 pm

      Yaah telat di’ lewat mi DL-nya ๐Ÿ™

      Reply
  • Puteriamirillis November 15, 2011 at 4:28 am

    ah, mbak semoga penyakit itu tidak lagi datang kpdmu ya. dokter yang berdedikasi seperti itu tentunya amat dikenang oleh pasien ya mbak, jarang ada yg seperti itu. makasih ya mbak dah ikutan dear pahlawanku.

    Reply
  • advertiyha November 17, 2011 at 9:33 am

    Prof Sedja memiliki dedikasi tinggi dan tanggung jawab profesionalitas yang perlu diacungi jempol..

    surat ini, sekaligus mewakili kebersyukuran mbak atas terlewatinya ujian penyakit itu ya mbak.. sip .. ๐Ÿ™‚

    salam untuk rani..

    -artikel sedang dinilai-

    Reply
  • niccaniez November 24, 2011 at 1:28 am

    subhanallah…,
    saya terharu membaca postingan mama rani…, ^_^
    salam kenal ya…,
    selamat kenal juga, aih..saya terharu karena postingan ini bisa bikin pembacanya terharu ;D

    Reply
  • Yunda Hamasah November 26, 2011 at 1:10 pm

    Subhanallah… Orang seperti Prof Sedja memang layak disebut Pahlawan ๐Ÿ™‚

    Aku baru baca surat ini, terharu…

    Reply
  • Yunda Hamasah November 26, 2011 at 1:20 pm

    Balik lagi, oyaaa kalau tak berkenan, ingin juga tahu menurut hemat/analisa Tutut, asal muasal dapet TB dari mana ya, biar bisa diambil pelajaran buat yang lain, trims

    Reply
  • umminyafardais November 27, 2011 at 9:48 pm

    dr.haerani ini yg tinggalnya di pare2 bukan ya? btw, smoga selalu di beri kesehatan sepanjang hidup ya, salam. terharu saya baca postingannya

    Reply
  • Selamat Datang, Sedja! | sedjahaerani January 14, 2012 at 7:55 pm

    […] muncul dibenak Ninik dan Mama. Malam itu setelah Mama diketahui mengidap penyakit apa (bisa baca di sini), setelah sedikit demi sedikit Mama sudah bisa menelan lagi, ada rasa kagum muncul di benak Ninik. […]

    Reply
  • Diah January 30, 2012 at 11:27 pm

    Salam untuk Prof Sedja ya Mama Rani… :-)Subhanallah, mama dan Sedja dua2nya sehat yah, setelah melewati ujian sakit yang berat. Alhamdulillah, jempols buat semuanya.

    Reply
  • Hushaemah Syam July 24, 2012 at 9:52 pm

    Insyaallah Prof. Sedja telah melahirkan pahlawan2 yg cerdas dan berdedikasi tinngi . Semangat mbak Nining dan Mas Fajar.

    Reply
  • rs mitra husada makassar July 24, 2012 at 11:00 pm

    ijin copas le website resmi rsmitrahusada.com

    Reply
    • Mama Sedja July 25, 2012 at 1:01 am

      sip. silahkan ๐Ÿ™‚
      jgn lupa cantumkan sumberx yaa..hehe

      Reply
  • ulfah July 24, 2012 at 11:42 pm

    Sy terharu banget mba dengan tulisan ini, prof peduli banget dengan pasiennya mba, hebat prof

    Cepat sembuh yah prof

    Reply
  • Mahdi Umar July 25, 2012 at 3:59 am

    ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู …SubhanallaH, Maha Suci Allah, Maha mengetahui segala segala sesuatu kebutuhan Hambanya, Maha menyembuhkan,,Insya Allah sembuhkan dan beri kekuatan kepada Guruku, Ayahku tercinta, terkadang Prof. Juga sebagai Sahabat karib,..Ya Allah, yang maha pengasih dan penyayang…..Sayangilah Guruku yg baik hati ini,,Beliau Ichlas, sabar dan rendah hati dalam menerima Cobaan2 Allah SWT, Subhanallah, beliau sakit, beliau pernah kritis, dengan kesabaran dan doa Keluarga tercinta serta doa anak2 didik, Allah memberi kekuatan dan kesembuhan. Beliau sebagai contoh orang yg ichlas dan sabar…Semoga dengan itu semoga Allah SWT memaafkan semua kehilafan dan kesalahan Prof. Saya ssangat terharu bila mengingat kebaikan prof,,,Luar biasa guruku,,,,luar biasa ayahandaku…cepat sehat prof,,,doa kami buat prof…Semoga Rahmat Allah SWT dibulan suci Ramadhan ini tercurah buat Ayahandaku tercinta,,, titip Salam hormat Kami Sek buat Prof………

    Reply
    • Nining Sedjwidada July 26, 2012 at 7:23 am

      Bismillahirrahmanirrahim, dear adinda Tutut…
      Blog ini sungguh merupakan hadiah yang
      ‘teramat’ sangat indah yang bisa saya berikan pada ayahanda saya di hari ulang tahunnya yang ke 76 kemarin, tanggal 25 Juli 2012. tua)…Kondisi Prof. Sedja, Alhamdulillah sudah jauuuh lebih baik dari tahun lalu (2011), namun saat ini masih banyak keterbatasan-keterbatasan yang harus bliau jalani dikarenakan kesehatan dan faktor usia yang kurang mendukung pekerjaan beliau sebagai seorang dokter. Namun kemauan beliau yang keras untuk bangkit melawan penderitaan akibat gagal ginjal yang dideritanya serta sikap ihlas dan rendah hati yang dimilikinya, membuat beliau bertahan menjalani cuci darah tiap seminggu sekali, sehingga masih bisa berkumpul bersama kami sampai hari ini. Sungguh suatu perjuangan yang berat antara hidup dan mati.
      Adikku, serta teman sejawat yang saya cintai, terimakasih atas doa dan pujian yang dberikan buat papa saya..Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita semua Amiin..Amin Ya Rabb..

      Reply
  • hasni millo February 16, 2013 at 1:47 pm

    Prof. dr. R. Sedjawidada, Sp.THT-KL(K)….dari kisah ini sy terharu, seorang dokter yg patut diteladani dalam menggunakan ilmu dan pengetahuannya dalam membantu orang menyembuhkan penyakitnya. tindakan medis yg cepat dan tepat….memberikan semangat yg luar biasa, sehingga pasien punya kekuatan untuk sembuh…bukan hanya memberi pengobatan tapi memberi MOTIVASI HIDUP….semoga cepat sembuh ya prof…

    Reply
  • Iman D Nugraha April 3, 2013 at 6:23 pm

    subbhannallah,,,walau hanya mendengar dari seorang dr. specialist,,,tapi saya yakin dgn integritas beliau,,,,semoga prof. Sedjawidada selalu dalam lindungan Allah SWT, amien amien amien yarobbalalamin,,

    Reply
  • Iman D Nugraha April 3, 2013 at 6:23 pm

    subbhannallah,,,walau hanya mendengar dari seorang dr. specialist,,,tapi saya yakin dgn integritas beliau,,,,semoga prof. Sedjawidada selalu dalam lindungan Allah SWT, amien amien amien yarobbalalamin,,

    Reply
  • fandy August 13, 2015 at 3:49 am

    semoga cepet sembuh profesor

    Reply
  • ipeh alena January 11, 2016 at 8:37 am

    โ€œDoakan saja dulu anaknya, pak. Doakan biar segera sembuh. Baru nanti doakan sayaโ€.

    Sungguh, saya terharu, bagaimana dengan yang berhadapan dengan beliau langsung ya. Benar-benar sosok yang patut dicontoh, tidak egois justru mengingatkan kita untuk melihat mana yang lebih penting dan mana yang bisa didoakan selanjutnya.

    Semoga beliau selalu berada dalam lindungan Nya

    Reply
    • andyhardiyanti January 11, 2016 at 10:41 pm

      Amiiin.
      Saya setiap baca postingan ini bawaannya selalu pengen nangis mbak ๐Ÿ™
      Ingat gimana waktu sakit dulu pun ingat sama Prof.Sedja…

      Reply
  • yurmawita January 11, 2016 at 11:24 am

    Terharu… Sekali membaca tulisanmu mba… Salut sama prof sedja, pengen baca tulisanmu lagi mba… Aku follow ya mba

    Reply
    • andyhardiyanti January 12, 2016 at 7:00 pm

      Terima kasih mbak. Silahkan difollow, dengan senang hati ๐Ÿ˜‰
      Saya berencana mau membuat postingan tentang ini lagi. Banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang Prof.Sedja. Jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung kembali yaa ^_^

      Reply
  • Aprillia Ekasari April 21, 2016 at 7:07 pm

    Semoga suatu hari bisa ketemu lagi sama Prof Sedja ya Mbak ๐Ÿ™‚

    Reply
  • Hastira April 21, 2016 at 9:14 pm

    waaahhhh, terharu, semoga cepat sembuh pahlawannya ya

    Reply
  • cumilebay September 29, 2016 at 2:11 am

    Ada cerita di balik nama yaaa, semoga selalu di beri sehat
    Abang gw, waktu usia 20 an juga kena kelenjar tbc dan proses penyembuhan 6 bulan dan sekarang sehat segar bugar

    Reply
  • Zia Subhan October 25, 2016 at 5:41 am

    Mama Rani, terharu sama isi suratnya. Perjuangan melawan TB pun bukanlah hal yang mudah, selama 6 bulan pengobatan terus menerus tanpa boleh terputus dan sambil mengandung pula, subhanallah. Stigma sosial juga kdang kejam ya. huhuhu. Support keluarga utama dan Allah sebaik-baiknya pelindung dan penyembuh. Alhamdulillah sekarang mama Rani sudah sehat dan Rani pun ceria dan tumbuh sehat.

    Reply

Leave a Comment