Colour to Life dan Trauma Healing Usai Bencana Gempa di Lombok

colour-to-life

Colour to Life dan Trauma Healing Usai Bencana Gempa di Lombok. Akhir Juli kemarin saya terpilih oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) sebagai salah satu peserta yang akan dikirimkan produk Colour to Life. Tentunya setelah sebelumnya saya mengisi form keikutsertaan. Dimana produk tersebut nantinya akan direview di blog dan reviewnya itu akan dilombakan. Saya sangat excited karena tahu Rani (anak sulung saya) emang demen banget sama aktivitas mewarnai dan segala hal yang berkaitan dengan gadget. Lho gadget? apa hubungannya? Baca terus tulisannya, nanti bakal tahu kok.

Pada suatu siang, sampailah sepaket produk Faber-Castell Colour to Life ini di rumah. Isinya terdiri dari: 15 page Augmented Reality Colouring Book, 20 Connector Pens, dan sebuah buku mini panduan mewarnai menggunakan Connector Pens. Packagingnya rapi banget. Oh ya, karena saat paket tiba anak saya masih di sekolah, maka saya belum memulai aktivitas mewarnainya. “Tunggu Rani saja nanti”, pikir saya.

Hari berganti hari, karena berbagai kesibukan baik dari saya maupun Rani, maka aktivitas mewarnai bersama baru sekali waktu kami lakukan. Ya, Rani sedang sibuk karena baru saja berstatus sebagai murid kelas 1 SD. Sibuk karena senang banget belajar, rajin kerja PR dan kalau ada waktu luang dia gunakan untuk beristirahat. Saat kami mencoba produk Colour to Life untuk pertama kalinya, malah tidak sempat foto-foto. Tapi kami sangat menikmati aktivitas mewarnai, melihat karakter yang telah diwarnai tersebut menjadi nyata dan mencoba beragam permainan di aplikasinya. Oh ya, sempat berfoto dengan karakternya juga sekali. Sekadar coba-coba.

colour-to-life

Waktu Kami Bersama Colour to Life, Beberapa Saat Sebelum Bencana

Kembali Bermain Colour to Life dan Melakukan Pemotretan Untuk Pertama Kalinya

Mataram, 5 Agustus 2018. Selepas shalat maghrib biasanya adalah saat dimana Rani mengerjakan PR Matematika dari tempat lesnya. Tapi entah kenapa dia uring-uringan sekali malam itu. Tidak bisa dikasih tahu, keras kepala dan bersuara keras setiap kali diajak ngomong. Beberapa kali pula ia mengganggu Tita adiknya. Akhirnya saya mengambil sekotak paketan Colour to Life. Saya mengajaknya untuk bermain itu dulu, PRnya biar dikerjakan setelah bermain. Oh ya, tidak lupa saya melakukan foto produk karena memang kemarin-kemarin saya tidak ada dokumentasi.

Kami pun main bersama. Mewarnai gambar, melihat wujud nyatanya di layar gadget, dan tidak lupa memotret foto dengan karakter di dalamnya. Adik Tita ikut bahagia melihat deretan 20 warna Connector Pens. Sesekali dimainkannya dan nyaris dimasukkan di mulut hahaha…biasalah fase oral, tapi tetap dalam pengawasan saya. Rani jadi sedikit rileks, semoga dia jadi lebih santai saat kembali mengerjakan PRnya nanti.

colour-to-life

Gempa 7 SR Mengguncang Lombok dan Trauma Mendalam Setelahnya

Setelah puas bermain, setidaknya selama 30 menit, Rani pun saya ajak untuk kembali mengerjakan PRnya. Produk Faber-Castell Colour to Life tadi saya simpan, lalu sambil tetap menggendong Tita saya dampingi Rani belajar. Adzan Isya tidak lama berkumandang dari masjid yang jaraknya hanya berselang satu rumah dari tempat tinggal saya. Ah, lagi-lagi Rani uring-uringan. Ditendang-tendangnya meja tempat ia belajar sampai mengeluarkan suara yang cukup berisik. Beberapa kali ditegur, ia tetap tidak mendengar.

Usai adzan, Papanya Rani berangkat ke masjid, sementara kami sedang berlima di rumah. Ada saya, Rani, Tita, Niniknya Rani (mama saya) serta seorang kakak perempuan saya. Shalat isya sudah dimulai di masjid dan Rani masih dalam kondisi betenya. Saya memangku Tita dan duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari meja belajar tempat Rani berada. Sampai kemudian terasa sebuah getaran hebat. Ya, gempa! Rasanya sungguh keras sekali. Saya menarik paksa tangan Rani. Kami berlarian ke halaman rumah. Gempa tersebut keras sekali dan dalam waktu yang cukup lama, ditambah lagi aliran listrik yang langsung padam. Malam itu sangat gelap, mencekam. Belum selesai kepanikan kami atas getaran hebat tadi, BMKG menginfokan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami. Saya mencoba tenang, tapi tetap tidak bisa. Singkat cerita, malam itu kami mengungsi ke rumah teman di daerah Lingsar. Sebuah tempat yang cukup tinggi dan terletak cukup jauh dari pantai.

colour-to-life

Colour to Life dan Trauma Healing Usai Bencana Gempa di Lombok

Trauma Healing dengan Permainan Colour to Life

Senin, 6 Agustus 2018 pagi, kami sekeluarga kembali ke rumah. Kondisinya cukup berantakan. Beberapa perabotan sudah tidak pada tempatnya, tembok-tembok retak dan sejumlah genteng jatuh. Alhamdulillah, setidaknya masih bisa ditempati. Galau sebenarnya ingin tinggal di dalam rumah atau mendirikan tenda sementara di halaman. Sebab menara masjid dekat rumah pun sudah retak dan mulai miring. Khawatir tertimpa reruntuhannya, maka kami putuskan untuk diam di dalam. Tentunya seluruh aktivitas kami pusatkan di ruang tamu. Agar jika terjadi gempa susulan, kami bisa lebih mudah untuk berlari ke luar.

Siapa sangka, bahkan hingga tulisan ini saya ketik, gempa-gempa susulan masih terus terjadi. Ya, layaknya gempa, rasa trauma dalam diri saya pun anak-anak juga belum usai. Ingin pergi, tapi ke mana? Rani bahkan sempat menolak saat diajak masuk ke dalam rumah. Ia khawatir ada gempa lagi. Ia takut rumah ini akan rubuh. Saya sudah bingung mau mengalihkan perhatiannya dengan cara apa. Doa sudah tentu. Dan ya, jangankan Rani, saya saja masih merasakan trauma. Lalu saya teringat pada Colour to Life. Satu set peralatan mewarnai tersebut masih tergeletak di atas meja yang kami tinggalkan saat kejadian gempa kemarin. Saya ambil dan saya coba mengajak Rani memainkannya lagi. Semoga bisa menjadi alat untuk trauma healing bagi saya dan Rani, pikir saya kala itu.

colour-to-life

Mengapa Colour to Life?

Alhamdulillah, Rani bisa kembali ceria dan setidaknya pikirannya sudah teralihkan. Saya pun demikian, rasanya lebih rileks setelah mewarnai beberapa bagian pada suatu gambar. Beberapa waktu setelahnya malah Rani yang meminta sendiri peralatan mewarnai tersebut pada saya. Ya, setiap selesai digunakan, saya akan menyimpan kembali kotak Colour to Life tadi ke dalam tas. “Buat jaga-jaga, kalau suatu saat harus pergi mengungsi lagi”, pikir saya.

Menurut saya, Colour to Life ini adalah paket lengkap untuk membuatnya sibuk. Tentu saja, untuk mengembalikan lagi keceriaannya. Mengapa? Karena ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan permainan ini, yaitu:

  • Mewarnai sejumlah gambar yang ada di Augmented Reality Colouring Book. Berbeda dengan buku mewarnai pada umumnya, dimana buku ini dapat menghidupkan karakter yang telah diwarnai melalui sebuah aplikasi bernama Colour to Life. Teman-teman bisa mendownload aplikasi tersebut baik pada android maupun iOS, cukup dengan scan barcode yang ada pada kemasan produk. Atau bagi pengguna android, bisa langsung download di sini.
  • Scan gambar pada Augmented Reality Colouring Book. Jika sudah selesai diwarnai dan aplikasi sudah terpasang di gadget teman-teman. Langsung saja scan gambar tersebut, total ada 5 pilihan karakter pada Augmented Reality Colouring Book tadi. Jangan lupa, scan gambar dengan benar dari jarak minimal 30 cm. Kalau karakter sudah tampak hidup, bisa mulai dimainkan deh!
  • Foto bersama dengan karakter yang diinginkan. Tahu gak, kita bisa foto bersama lho dengan karakter yang sudah terlihat hidup di layar gadget tadi. Caranya cukup dengan menekan icon kamera (photo mode) yang ada pada tampilan aplikasi dan arahkan kamera sesuai dengan posisi yang diinginkan. Aplikasi akan melakukan pengambilan gambar dalam 3 detik waktu mundur. Dan tadaaaa..foto kalian sudah tersimpan di galeri gadget.
  • Memainkan Aneka Game. Kebayang gak betapa serunya kalau karakter yang sudah kita warnai tadi menjadi tokoh utama dalam sebuah game yang tentunya kita mainkan sendiri. Hihihi, bisa-bisa berasa game itu kita yang ciptakan nih. Ya, ada sejumlah game yang bisa kita mainkan pada aplikasi Colour to Life. Asyik gitu deh pokoknya, tipe-tipe game yang gak sekadar dipakai bermain, tapi juga sekaligus ada pembelajaran di dalamnya. Eaaa~
  • Bagi yang masih bingung, cara download dan penggunaan Colour to Life bisa teman-teman lihat di link berikut yaa: https://www.youtube.com/watch?v=xRCCr0U5pl4

colour-to-life

Colour to Life untuk Trauma Healing Mereka

Gimana, komplit banget kan? Pokoknya mainan ini benar-benar mampu meningkatkan mood dan kreativitas kami. Saat melihat Rani sibuk mewarnai, scan gambar, berfoto, dan bermain di sana saya kemudian berpikir. Bagaimana jika Colour to Life ini dimiliki oleh para relawan yang ingin melakukan kegiatan trauma healing bagi korban gempa Lombok. Utamanya mereka, anak-anak yang berada di pusat terjadinya gempa yakni di Lombok Utara.

Andai saja ada donatur atau mungkin Faber-Castell sendiri berkenan menyumbangkan sejumlah paket tentu kami akan sangat bersyukur. Terbayang betapa excitednya mereka saat melihat apa yang diwarnainya dapat hidup, foto bersama serta dimainkan dalam sebuah game. Oh iya, atau mungkin saja ada orang baik yang setelah membaca tulisan saya ini. Lalu berkenan menyiapkan produk Colour to Life untuk program trauma healing bagi korban gempa di Lombok. Biar sekalian saya infokan bahwa tempat pembelian Produk Colour to Life ada di Tokopedia, Gramedia dan sejumlah toko buku terdekat.

Tidak pernah menyangka bahwa ulasan saya akan menjadi begini. Produk digunakan untuk trauma healing usai sebuah kejadian yang tidak mengenakkan melanda kami. Demikian pula tulisan yang teman-teman baca ini, saya cicil sedikit demi sedikit. Saya mulai saat situasi mulai tenang dan harus berhenti saat kembali terjadi gempa susulan.

Alhamdulillah kami sekeluarga di sini selamat. Rumah tidak parah, meski retak di beberapa tempat. Terima kasih atas perhatian dan doa dari teman-teman di luar sana. Mohon doakan pula mereka yang telah meninggal dunia, yang luka parah, yang belum ditemukan dan yang lainnya. Doakan Pulau Lombok segera pulih, pun agar trauma akan gempa ini segera berakhir. Amiiin…

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

14 Comments

  • Meriska Putri August 7, 2018 at 3:53 pm

    Kalau aku jadi mbak Andy mungkin udah gak bisa mikir apalagi nulis. Salut. Alhamdulillah mbak Andy sekeluarga baik-baik aja. Semoga situasi cepat kondusif, traumanya Rani juga hilang. Aamiin

    Reply
  • herva yulyanti August 8, 2018 at 2:37 am

    semoga selalu dilindungiNya sehat san selamat mba sekeluarga yah pasti kejadian itu menorehkan trauma aku liat beritanya aja merinding mba 🙂

    semoga nti donatur bisa kirimin ini y mba biar anak2 sana hepi

    Reply
  • Alfu laila August 8, 2018 at 3:33 am

    Ga trauma aja kalau mewarnai bisa bikin tenang lho.. Btw semoga semuanya cepat kembali seperti semula ya, semoga ga ada lagi gempa susulan lainnya.. Hebat bgt deh bisa selesaikan ulasan dengan kondisi yang cukup bikin was2 😑

    Reply
  • afifah haq August 8, 2018 at 3:54 am

    Turut berduka.. denger berita Lombok diguncang gempa sedih banget rasanya, aku bayangin anak-anak di sana keadaannya gimana.. Semoga semua bisa kembali normal ya mbak..

    Reply
  • Viedyana August 8, 2018 at 7:10 am

    Huwaaa dah jd aja tulisan dirimu mbak…dan si saiyah baru mau ngedraf di hari ke-4 inih…..

    Reply
  • nufazee August 8, 2018 at 9:38 am

    MasyaAllah Mba Andy, semoga sekeluarga dalam lindungan Allah SWT ya, dan si kecil sembuh traumanya

    Reply
  • Liza August 8, 2018 at 10:46 am

    Benar banget mbak Andy, mewarnai itu memang bagus untuk kesehatan jiwa karena ketika mewarnai pikiran kita akan teralihkan pada hal-hal yang membuat kita senang

    Reply
  • ophi ziadah August 9, 2018 at 5:56 am

    semoga anak2 di Lombok bisa pulih dari trauma ya mba andy
    kegiatan colouring inis ederhana tp memang relaxing

    Reply
  • Afifah Mazaya August 9, 2018 at 7:28 am

    Semoga selalu dilindungi Allah, ya, Mbak. Semoga hilang traumanya. Dan, anak-anak lain juga bisa mendapatkan trauma healing. 🙂

    Reply
  • Ruli retno August 10, 2018 at 2:45 am

    Semangat rani, semoga bs menjadi penyembuh trauma nya. Pengen pelukkk

    Reply
  • Indah Juli August 11, 2018 at 4:19 am

    Semoga selalu dalam lindunganNya ya Mak.
    Sehat selalu ya Rani, yuk sering mewarnai biar nggak takut lagi 🙂

    Reply
  • Didit August 16, 2018 at 3:26 pm

    Sya jg punya cerita mencekam disaat gempa 7 SR. Kapan2 sya posting mbak :). Sehat selalu bersama keluarga. Amiiin

    Reply
  • Diah Kusumastuti August 23, 2018 at 4:54 am

    Masya Allah, gempa itu sampai sekarang masih terasa ya Mbak, susul menyusul. Semoga segera berakhir.
    Dan semoga Rani dan anak-anak lain di Lombok segera pulih traumanya ya, Mbak.

    Reply
  • Keke Naima September 5, 2018 at 2:50 pm

    Bagaimana keadaannya sekarang, Mbak? Semoga selalu baik-baik saja, ya

    Reply

Leave a Comment