Piknik di Kapal yang Gagal

sumber: vesseltracker.com

Piknik itu tentang bepergian ke suatu tempat, dengan keluarga tercinta, membawa makanan minuman sebagai bekal, untuk nantinya dinikmati bersama saat perjalanan di kapal… Iya, ini tentang piknik kami di kapal yang sayangnya gagal, atau bisa dibilang batal?

Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar tepatnya tahun 2002 waktu itu. Sekitar 2-3 hari sebelum hari raya Idul Fitri. Saya, mama dan tiga orang kakak perempuan saya dijadwalkan akan berangkat menuju Kupang dengan menggunakan KM.Doro Londa. Kami akan merayakan hari raya Idul Fitri di sana, di Kupang tempat bapak bertugas. Keberangkatan kami ini sudah dijadwalkan jauh-jauh hari, singkatnya semua persiapan sudah matang. Perjalanan kami di kapal nanti bisa dianggap piknik. Bagaimana tidak, segala rupa lauk sudah mama siapkan untuk dinikmati bersama nanti, lauk di kapal sama semua rasanya -kata mama-. Piknik kali ini begitu penting, sebab inilah kali pertama kami bisa melakukan perjalanan bersama.

***

Saya sedang duduk disana, di ruang tunggu yang posisinya di pintu masuk kamar kelas II. Duduk bersama tumpukan barang bawaan untuk lima orang. Iya, lima penumpang kapal lebih tepatnya. Saya, mama, dan tiga orang kakak saya; sekali lagi saya sebutkan. Sirine kapal (sebut saja begitu) sudah berbunyi entah berapa kali. Saya tidak begitu tahu apa yang terjadi di luar, yang saya tahu kapal sudah sepi saat itu. Pedagang asongan, buruh-buruh bagasi, pun pengantar penumpang sudah tidak terlihat. Apa kapal sudah mulai berlayar? Aih, mama dan kak Diyah ini mana sih? Saya bingung antara mau menengok keluar atau tetap setia menjaga barang bawaan.

Saya, Mama, Kak Andy, Kak Eva dan Kak Diyah. Itulah personil lengkap keluarga kami yang akan berangkat hari ini. Kami semua berangkat bersama dari rumah, kecuali kak Eva yang katanya masih harus asistensi sebentar. Maka diputuskanlah kak Eva akan menyusul saja. Ketemu di pelabuhan saja nanti, begitu katanya.

***

Sirine kapal berbunyi lagi. Kali ini diiringi suara-suara benda berat lainnya. Tidak lama kemudian, diiringi dengan suara tangis kak Diyah. Saya tidak begitu ingat, tangisnya pecah atau bagaimana waktu itu. Pastinya kak Diyah memang menangis, mukanya merah pertanda kesal, diikuti Mama yang menenangkannya dari belakang, diikuti oleh beberapa ABK (anak buah kapal) yang simpati mencoba menenangkan juga. “Tunggu sebentar saja pak, kakak saya sudah di pintu masuk pelabuhan!”, kurang lebih seperti itu bentakan kak Diyah pada si bapak berseragam putih rapi. Tapi sepertinya perlahan kapal sudah mulai berlayar. Saya yang belum tahu apa-apa langsung menengok keluar, meninggalkan barang karena sudah ada Mama dan Kak Diyah.

“Lho, itu kan Kak Andy dan Kak Eva disana.. kok tidak ikut naik kapal?” Pertanyaan saya yang waktu itu sudah duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar sangat tidak keren sekali. Mungkin saya butuh aq*a saat itu. “Iya, Kak Andy memang tunggu Kak Eva. Kak Eva tiba, kapal sudah lepas landas tali”, jelas kak Diyah yang masih sangat kesal. Kami bertiga kemudian masuk kamar. Kamar yang berisi empat tempat tidur. Ada kamar mandi, juga lemari. Kamar yang kami siapkan untuk piknik di kapal. Menikmati pelayaran bersama, makan dengan lauk pauk yang sudah mama siapkan selama dua hari tiga malam nanti. Dimana pada akhirnya hanya kami bertiga yang ada di kamar ini. Diam-diam sendiri, mau membahas kejadian tadi khawatir kak Diyah jadi makin sensi.

***

Rupanya sepulang asistensi, kak Eva terjebak macet. Karena gemas dengan angkot yang tidak bisa bergerak akibat macet, dia pun naik becak, naik becak masih dirasa lama, akhirnya kak Eva jalan kaki ke pelabuhan yang sebenarnya berlokasi tidak jauh dari tempatnya asistensi. Tapi yang namanya manusia kan hanya bisa berencana, selalu ada Yang Maha Pemberi Keputusan. Kapal yang biasanya memang sering lama berangkat dari jadwal yang ditentukan, tiba-tiba benar berangkat sesuai jadwal. Kak Eva tiba di pintu masuk pelabuhan yang masih butuh jalan kaki lagi beberapa menit dikejutkan oleh sirine kapal yang sedari tadi sepertinya sudah bosan berbunyi, belum lagi dering ponsel yang tidak henti dari kak Andy dan kak Diyah. “Sudah, ini sudah lari masuk pelabuhan”, begitu suara kak Eva ketika dihubungi.

Sebelum kak Eva batal berangkat dan harus pulang menjalankan beberapa hari terakhir puasa sendiri di rumah. Kak Andy pun turun dari kapal, memutuskan untuk menemani kak Eva saja. Kak Diyah? jangan ditanya. Setelah lama, dia pun bercerita. Saat itu dia seperti sedang memainkan peran dalam film bertajuk “Penumpang yang Tertinggal” 😀 berdiri di tangga darurat, berdebat dengan ABK, kapten kapal dan mereka yang lain entah apalah namanya. Mau marah, tapi memang kesalahan si kakak yang terlambat. Mau ditinggal, gemas juga karena orangnya memang sudah di depan. Setelah kejadian itu, jangan heran kalau kak Diyah jadi terkenal. Ketika saya ajak berjalan-jalan melihat fasilitas kapal, selalu saja ada penumpang lain yang sekadar bisik-bisik “eh.. itu kan yang saudaranya batal berangkat tadi” sampai yang ribet ngajakin wawancara “eh…tadi gimana ceritanya sampai bisa nggak barengan gitu…?”.

***

Jadi begitulah ceritanya. Piknik itu penting, jadi saking pentingnya janganlah sampai batal terlaksana karena hal-hal yang sepele. Hehehe.. Oh iya, saya lupa cerita kalau kak Andy dan kak Eva akhirnya nyusul. Walaupun mereka jadinya lebaran di kapal, yaitu KM.Sirimau. Yang mana ketika sampai di Kupang, mereka kena marah *asistensi* dulu sama Bapak. Mulai dari kenapa bisa terlambat, kenapa jadwalnya bentrok sama urusan kuliah, dan lain-lain dan sebagainya. Sampai akhirnya ditutup dengan tawaran liburan di Bogor. Iya, Bapak ada acara kantor yang rencananya akan diselenggarakan disana.

Tapi sekali lagi, kita manusia hanya bisa berencana. Ternyata acaranya batal diselenggarakan di Bogor. Padahal Saya-sebagai kandidat yang terpilih untuk berangkat bersama Bapak waktu itu- sudah merencanakan akan ke Taman Safari. Melihat berbagai satwa yang hidup di alam terbuka. Tentu menarik kan ya? Oh ya, tenang saja. Sampai saat tulisan ini saya publikasikan, saya sudah berkesempatan ke Taman Safari di Bogor. Tidak bersama Bapak, melainkan bersama Sedja (anak saya), Kak Diyah, Kak Andy, dan Kak Helmi (suami kak Andy). Kak Eva mana? Terlambat kah? Tenang saja..si kakak yang satu itu memang tidak ikut 😉

Saya menutup postingan panjang ini dengan perasaan yang masih sama, perasaan ‘gemas’ akan piknik di kapal yang gagal. Aih, semoga saja suatu hari kami sekeluarga bisa benar-benar melakukan piknik di kapal. Bagaimana dengan teman-teman? Ada yang punya pengalaman ketinggalan kapal?

*Tulisan ini diikutsertakan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting”

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

11 Comments

  • arman October 5, 2015 at 8:22 pm

    ya ampun.. iya pasti sedih ya kalo ada anggota keluarga yang ketinggalan buat pergi liburan gitu. untung akhirnya bisa jadi nyusul ya…

    dulu kita pas masih kecil kalo liburan dari surabaya ke jakarta juga kadang naik kapal laut. 😀

    Reply
  • Titis Ayuningsih October 6, 2015 at 10:25 am

    Semoga dilain kesempatan bisa piknik di kapal ya Mbak 🙂 dan rasanya jika ada yang ketinggalan pasti merasa gagal ya Mbak hiksss

    Reply
  • Ristin October 6, 2015 at 4:26 pm

    Wah.. piknik dgn kapal ya? Blm pernah kecuali dl masih kecil bgt, cuma sekali, tujuannya pindahan bukan piknik hehe.. salam kenal 🙂

    Reply
  • giewahyudi October 7, 2015 at 6:08 am

    Waduh bisa ketinggalan gitu. Saya dulu pernah nyaris ketinggalan pesawat, biasa karena macet. Namun untungnya bisa meski tinggal beberapa menit lagi.

    Jadi sekarang kalau pergi kayak gitu mending kasih waktu cadangan sejam. Mending nungguin daripada ditinggalin. *halah curhat*

    Reply
  • Fahmi October 9, 2015 at 4:50 am

    hahah, kok bisa ketinggalan? nggak bisa nyusul itu ya? 😀 piknik naik kapal pasti seru tuh!

    Reply
  • sofyan hadi October 11, 2015 at 2:28 pm

    hehe lucu pas baca masnya bisa ketinggalan :3 ,

    Reply
  • duduul October 11, 2015 at 2:55 pm

    wah suka jalan-jalan dengan kapal ya mba?? ko ngirin si mba..
    hemm dulu pernah kecil naik kapal laut sekali, tapi muntah2 hehe mungkin perlu dicobain lagi nih 🙂

    Reply
  • Nunung Yuni A October 13, 2015 at 8:45 am

    Waaah rasanya pasti nano-nano ya pas ketinggalan kapal. Sedih, kecewa, marah, geli dan lain-lain

    Reply
  • murtiyarini October 16, 2015 at 8:18 am

    Terimakasih sudah berpartisipasi dalam lomba. Maaf, pengumuman ditunda tgl 20 Oktober 2015. Goodluck.

    Reply
  • Asop November 19, 2015 at 12:14 pm

    Waaaah saya dan keluarga belom pernah sama sekali mencoba piknik di kapal 😀
    Mungkin nanti lain kali saya nyoba, siapa tahu saya nanti ke Riau naik mobil sama keluarga saya. Perjalanan panjang tuh. Nah pas di kapal, saya cobain menikmatinya sebisa mungkin. Hehehe 🙂

    Reply
    • andyhardiyanti November 19, 2015 at 4:01 pm

      Wih, kalau itu mungkin naik kapal ferry ya sop? Cobain sensasinya naik kapal Pelni, hihihi.. Murmer lho (dibanding pesawat).

      Reply

Leave a Comment