Bangsa Maritim: Perihal Bagaimana Belajar Lebih Cinta Indonesia

_MG_6476

Sebelum duduk di bangku perkuliahan saat ini, tepatnya saat berada di kampus tempat saya kuliah sebelumnya (ya, benar saya adalah mahasiswa pindahan), ada satu hal yang saya ingat. Hal itu adalah tentang salah satu mata kuliah umum yang berlaku disana. Mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa dengan jurusan dan jenjang apapun. Wawasan Sosial Budaya Bahari nama mata kuliahnya, oleh kebanyakan mahasiswa cukup disingkat dengan sebutan ‘WSBB’.

Wawasan Sosial Budaya Bahari kerap kali menjadi mata kuliah yang paling membosankan menurut saya mungkin juga mahasiswa lainnya pada waktu itu. Bagaimana tidak, mata kuliah umum yang kami bayangkan selama ini hanya terbatas pada persoalan bahasa, agama, sains dan matematika. Jelas saja kehadiran mata kuliah wawasan sosial budaya bahari ini bisa dianggap sebagai mata kuliah yang ‘numpang lewat’ saja, yang menurut saya suatu hari saat terjun di dunia kerja tentulah tidak lagi digunakan.

Secara umum, mata kuliah wawasan sosial budaya bahari ini tentunya memuat materi mengenai Indonesia sebagai negara yang berbudaya bahari. Sebuah mata kuliah yang pada saat sekarang ini baru saya pahami, betapa pentingnya hal tersebut diajarkan. Bagaimana kita sebagai mahasiswa diajarkan untuk mengenal lebih dekat dengan Negara kita, Indonesia. Dimana kita berada di negara yang memiliki wilayah laut lebih luas dari wilayah daratannya. Dimana kita berada di Negara yang semua penduduk dunia tahu, kaya akan hasil lautnya.

***

Mengingat kembali kata yang digunakan pada mata kuliah wawasan sosial budaya bahari. Perlu diketahui bahwa kata bahari kurang lebih memiliki arti yang sama dengan kata maritim. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia kata bahari berarti mengenai laut, sedangkan kata maritim mempunyai arti yang lebih lengkap lagi yaitu: berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut.

Dari pengertian dua kata diatas sangat jelas bahwa Indonesia merupakan negara yang terkenal akan lautnya. Lebih jelas lagi pada poin (a) pasal 3 Undang-Undang No.34 Tahun 2014 Tentang Kelautan disebutkan bahwa “Penyelenggaraan Kelautan bertujuan untuk: menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan berciri nusantara dan maritim”. Istilah bangsa maritim yang akrab kita dengar belakangan ini seolah mengisyaratkan bahwa sadarkah kita selama ini bahwa inilah kita, bangsa yang kaya akan potensi kelautannya. Lalu, sudahkah kita punya rasa cinta, rasa bangga pun rasa ingin selalu menjaga terhadap apa yang selama ini Indonesia miliki sebagai sebuah bangsa maritim?

***

Sampai sekarang, saya kerap kali mengingat mata kuliah wawasan sosial budaya bahari yang pernah saya ikuti dulu. Bukan di tulisan ini saja, bahkan ketika saya menganyam pendidikan di kampus saya sekarang. Saya berpikir mengapa tidak diterapkan saja mata kuliah yang membahas persoalan maritim seperti ini secara merata pada seluruh kampus di Indonesia. Tentunya dengan tujuan agar kami sebagai para mahasiswa nantinya dapat memberikan kontribusi yang besar dalam persoalan maritim terhadap negara.

Kalaupun tidak sampai berkontribusi besar, setidaknya pada diri kami dapat tumbuh rasa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa maritim. Tumbuh rasa ingin menciptakan dan menjaga kedaulatan negara Indonesia. Tumbuh rasa cinta terhadap Indonesia. Tumbuh rasa bangga sebagai bangsa maritim, yang hasil kelautannya tidak ternilai. Kontribusi seperti apa sebenarnya yang kami para mahasiswa dapat lakukan?

Tentunya jangan selalu berpikir bahwa urusan maritim ini hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa jurusan perikanan dan kelautan saja. Lihat masing-masing apa yang diri kita bisa lakukan? Semua jurusan perkuliahan tentunya dapat berperan sesuai kemampuannya itu sendiri. Misalnya saja, selaku mahasiswa teknik informatika, mampukah kita menciptakan sebuah aplikasi atau sistem sederhana yang dapat memberikan kemudahan bagi para nelayan untuk memperoleh lebih banyak lagi hasil ikan tangkapannya.

Atau barangkali ada dari kita yang ingin menciptakan sistem yang dapat mendeteksi dengan cepat ketika ada kapal-kapal asing yang seenaknya masuk dan mengambil hasil laut yang berada di perairan Indonesia. Hal yang demikian tentu dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi Indonesia, kepada nelayan-nelayan kita pula khususnya. Sekali lagi, jangan selalu berpikir bahwa hal ini hanya menjadi tugas kementerian pertahanan Republik Indonesia saja. Mari sama-sama berkontribusi, membangkitkan apa yang kita sebut rasa nasionalisme sebagai bangsa maritim.

Sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasioanal (LAPAN) dengan membuat sebuah Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (SPK) kemaritiman dan perikanan rangkap berbasis satelit yang berfungsi sebagai penginderaan lingkungan maritim dan potensi kelautan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dan mungkin saja aplikasi seperti ini nantinya dapat digunakan secara menyeluruh di kawasan laut Indonesia.

***

Sebagai bangsa maritim tentu saja bangsa Indonesia kaya akan hasil lautnya, terkhusus lagi pada hasil laut berupa ikan. Tapi ironisnya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Salah satu penyebab rendahnya konsumsi ikan di dalam negeri ini bisa jadi karena kurangnya informasi mengenai pentingnya mengkonsumsi ikan.

Untuk soal konsumsi ikan laut tadi saya tidak begitu heran, sebab dari pengamatan saya di kota tempat saya tinggal ini yaitu di Mataram, terlihat jelas tingkat konsumsi ikan laut terbilang masih rendah. Warung-warung, rumah makan maupun restoran terkenal masih jarang menyajikan menu ikan laut, sekalipun ada bisa dihitung jumlah tempat makan yang menyediakannya. Tempat makan di kota Mataram ini pada umumnya hanya menyajikan ikan air tawar saja dalam daftar menunya. Entah karena memang ikan air tawar ini lebih disukai pengunjung, atau biaya untuk mendatangkan ikan laut yang terbilang cukup besar. Saya pun kurang begitu paham mengapa hal yang demikian terjadi.

***

Membaca kembali satu persatu poin yang saya bahas diatas, sebenarnya ada satu pesan yang ingin saya sampaikan tentang bagaimana suatu istilah ‘bangsa maritim’ ini bisa tumbuh dan melekat dalam diri kita. Suatu istilah yang menjadikan kita bangga telah lahir, besar dan menjadi bagian dari negara Indonesia. Sehingga bangkitlah rasa nasionalisme kita terhadap Indonesia sebagai bangsa maritim.

Indonesia telah dihadapkan pada banyak permasalahan di bidang maritim, mulai dari masih kurangnya tingkat kesadaran konsumsi ikan; sarana transportasi laut untuk mencari ikan dan yang lainnya yang masih minim; pun wilayah laut kita yang masih saja terus ‘digoda’ oleh kapal-kapal asing dan masih banyak lagi.

Solusi-solusi jitu atas sekelumit permasalahan diatas tentu sangat dibutuhkan. Kita selaku mahasiswa, yang selama ini disebut sebagai ‘agent of change’ atau agen perubahan dituntut ‘berpikir lebih’. Kita dituntut berpikir lebih kreatif, dituntut menunjukkan pada dunia apa sih peran kita sebagai agen perubahan? Dituntut untuk memperlihatkan seberapa cinta kita pada bangsa maritim kita, bangsa Indonesia.

Bukan hanya sebatas berbagi atau sharing berbagai link berita pada media sosial belaka, tanpa memastikan terlebih dahulu kebenarannya. Bukan hanya sekadar heran dan marah ketika pemerintah Indonesia memutuskan menenggelamkan kapal asing yang berani masuk ke perairan Indonesia, melainkan bicaralah pada mereka dan katakan mengapa tidak sebaiknya kapal-kapal itu diberikan pada nelayan-nelayan kita sampai detik ini masih saja tidak memadai sarana dan prasarananya. Sebab inilah kita, sebagai bangsa maritim yang terus berupaya belajar lebih cinta pada Indonesia.

***

Sumber:

*Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Arikel Parade Cinta Tanah Air yang diadakan oleh Kementerian Pertahanan dan Alhamdulillah meraih juara 3 tingkat Provinsi NTB.

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

14 Comments

  • Mugniar October 9, 2015 at 3:39 am

    WOW keren nih Mama Sedja, produktif sekali.
    Selamat atas kemenangannya yaa

    Reply
  • Fahmi October 9, 2015 at 4:48 am

    sebagai negara dengan mayoritas laut, kita harus mendukung upaya pemerintah untuk menjaga wilayah laut kita dong ya? btw, selamat atas kemenangannya ya 😀 keren lah bisa juara 3 🙂

    Reply
  • Shudai Ajlani October 9, 2015 at 6:53 am

    Setuju mbak, Indonesia memang kaya akan kehidupan lautnya. Kita sebagai orang yang tinggal di Indonesia harus tau mengenai daerah maritim Indoneisa yang sangat indah supaya kita semakin bangga dan cinta dengan negara kita sendiri yaitu Indonesia 🙂

    Reply
  • echaimutenan October 9, 2015 at 3:52 pm

    yeayyyy selamaaatttt yaaaa

    Reply
  • Titis Ayuningsih October 9, 2015 at 8:56 pm

    Indonesia itu sangat indah, laut sebagai dumber kehidupan khususnya untuk nelayan dan kita semuanya 🙂

    Reply
  • Lusi October 11, 2015 at 3:24 pm

    Sudah pernah menyeberangi selat Malaka dan selat Sunda beberapa kali. Deg2an sih, tapi asik juga :))

    Reply
  • Ibrahim Vatih October 12, 2015 at 7:09 am

    Kalo ngomongin tentang maritimnya, ada banyak banget potensi bisnis yang bisa digali dari sisi perairan yang dimiliki Indonesia.

    *lagi demen banget sama tema bisnis.

    Reply
  • noerazhka October 17, 2015 at 11:43 am

    sepakat banget dengan tulisan mba, indonesia negara kepulauan, sebagian besar wilayahnya adalah laut, ya sudah seharusnya kita memahami dan mencintai hal kemaritiman. ya meskipun ngga bisa berenang & bete kalo disuruh snorkeling, cukuplah saya menikmati dari atas permukaannya. hehehe .. 😀

    salam kenal ya, mba ..

    Reply
    • andyhardiyanti November 2, 2015 at 4:33 pm

      Salam kenal Mbak 🙂
      Iya, jadi ya mungkin memang perlu ada mata kuliah tentang maritim seperti ini di semua jurusan. Supaya setidaknya kitakita ini gak butabuta banget sama kekayaan Indonesia

      Reply
  • Suherlin October 18, 2015 at 1:12 am

    Indonesia itu sungguh kaya, namun pengelolaannya saja yang masih kurang. Jadi sebagai warga negara, harus mendukung pemerintahan dalam upaya memajukan dalam bidang maritim.

    Reply
  • Gama March 12, 2016 at 2:06 am

    Indonesia dengan beragam keindahan alam, keberagaman budaya, dan keunikannya masih saja menjadi kurang perhatian bagi masyarakatnya sendiri, harusnya kita bisa lebih memanfaatkannya sehingga kita tidak hanya sebagai masyarakat yang konsumtif tetapi juga masyarakat yang produktif.

    Reply
  • Dewa Laut Jakarta May 8, 2016 at 5:36 pm

    Tulisan yang sangat menarik mengenai kemaritiman Indonesia

    Saya setuju dengan sosialisasi manfaat mengonsumsi ikan.

    Reply

Leave a Comment