Lomba Dunia Maya-Memburu Matahari dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Sejak dulu -sejak saya mulai mengenal puisi- saya punya keinginan agar suatu saat nanti puisi-puisi saya juga dapat dibukukan seperti mereka, para penyair yang buku kumpulan puisinya pernah saya baca. Tidak harus buku kumpulan puisi pribadi, antologi juga tak apa. Tapi masalahnya apakah puisi-puisi yang saya tulis layak untuk dibaca? menarik atau tidak? atau bahkan hanya sekadar rangkaian sepatah dua patah kata yang sampah? Bukannya pesimis, maklum saja buku kumpulan puisi yang saya baca adalah karangan para penyair senior, seperti Chairil Anwar dan Subagio Sastrowardoyo. Saya berpikir bahwa wajar saja kalau mereka bisa menulis puisi dan bahkan dibukukan sebab usianya saja sudah bukan usia anak sekolah dasar seperti saya waktu itu. Rasa pesimis tersebut menjadikan saya lupa menulis puisi lagi. Saya pun mulai jarang menulis puisi kecuali ketika ada tugas membuat puisi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, hari ibu dan peringatan hari ulang tahun ibu saya ( ibu senang sekali membaca puisi-puisi saya, jadi setiap hari Ibu dan hari Ulang Tahun Ibu saya selalu menuliskan puisi khusus untuknya).

Akhirnya entah pada tahun berapa, keinginan untuk menulis sebuah buku (membukukan puisi-puisi saya) itu muncul lagi setelah saya mengetahui keberadaan seorang penyair cilik dengan puisi-puisinya yang sungguh menarik. Dia adalah Abdurahman Faiz. Penyair cilik (tapi sekarang sudah tidak cilik lagi..hehe) yang berhasil menulis sejumlah buku kumpulan puisi. Ketika membaca blog pribadi milik Faiz, saya menemukan postingan yang di dalamnya tercantum nomor handphone bundanya Faiz (Helvy Tiana Rosa red.). Saya pun mulai sms-an dengan beliau untuk menanyakan berbagai hal mengenai cara menulis buku kumpulan puisi dan menerbitkannya. Kata bunda Helvy, buku kumpulan puisi itu susah untuk diterbitkan kecuali puisi-puisinya menarik dan ternyata bunda Helvy juga punya sejumlah puisi yang sudah numpuk dan belum terbit-terbit juga. “Tutut sayang, terus saja menulis puisi. Nanti puisi yang kita tulis akan semakin banyak dibaca orang dan kalau puisinya menarik, penerbit pasti akan tertarik untuk membukukannya”, begitu pesan bunda Helvy.

Mungkin cerita saya sudah terlampau jauh tanpa sedikit pun menyinggung judul postingan di atas. Memburu Matahari dari Dunia Maya ke Dunia Nyata? Ya, tidak salah lagi. Saya dan sejumlah penyair muda lainnya dari kota yang berbeda baru saja memburu matahari dari dunia maya ke dunia nyata. Begini, beberapa bulan yang lalu seorang teman saya yang bernama Eko Putra, seorang penyair muda yang berasal dari pelosok Musi Banyuasin yang saya kenal dari aktivitas blogwalking dan sampai sekarang belum pernah saya temui secara langsung, mengirimkan pesan singkat pada saya yang isinya meminta saya agar mengirimkan lima buah puisi ke alamat e-mailnya. Karena pada waktu itu saya sedang sibuk-sibuknya dengan ujian akhir semester dan di rumah belum ada koneksi internet, hingga batas akhir pengiriman naskah puisi yang dia tetapkan telah tiba saya belum juga mengirimkan puisi-puisi tersebut. Sampai pada suatu ketika, Eko mengirimkan lagi pesan singkat bahwa dia telah mengambil lima buah puisi dari blog pribadi saya yang katanya cukup menarik. Sejumlah pesan singkat yang isinya sebenarnya tidak singkat bertubi-tubi Eko kirimkan ke ponsel saya yang isinya adalah komentar-komentar dari Jamal D.Rahman, Isbedy Stiawan ZS, dan Raudal Tanjung Banua mengenai sebuah buku puisi berjudul Memburu Matahari. Dari sms-sms ini akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata Eko baru saja mengajak kami, teman-teman penyair yang saling mengenal hanya dari dunia maya untuk membuat sebuah antologi puisi yang berjudul Memburu Matahari.

sampul buku Memburu Matahari, sampulnya dulu..belum jelas kapan terbitnya

Antologi puisi ini berisikan puisi karangan para penyair yang berasal dari berbagai kota. Ada yang dari Yogyakarta, Palembang, Makassar (saya sendiri lho ^_^), Pangkalpinang, dan sejumlah kota lainnya. Dunia maya-lah yang membuat kami saling mengenal. Kami bahkan belum pernah bertemu satu sama lain di dunia nyata, kalaupun ada paling hanya satu dua orang saja yang pernah saling bertatap muka. Proses lahirnya buku antologi puisi Memburu Matahari benar-benar berkat kehadiran dunia maya. Kata Eko, orang-orang yang memberikan komentar (Jamal D. Rahman dkk) pada antologi puisi ini mengirimkan komentarnya melalui surat elektronik atau e-mail. Penerbitnya pun merupakan penyedia layanan penerbitan buku yang ada di Internet. Maksudnya, penulis tinggal meng-upload naskah, gambar sampul buku, dan hal-hal lainnya yang diperlukan melalui situs penerbit tersebut. Ah, dunia maya semakin hebat saja. Ya, siapa sangka karena dunia maya saya akhirnya bisa mewujudkan keinginan yang sebenarnya sudah saya lupakan itu. Alhamdulillah, akhirnya buku saya (eh buku kami maksudnya..) diterbitkan juga ^_^. Buku antologi puisi berjudul Memburu Matahari itu sudah ada di tangan saya, bukunya nyata lho… hehehe.

bukunya ‘nyata’ kan? hehe..

‘Andy Hardianti Hastuti’, nama saya salah dikit tuh.. tapi ya udah deh, gak papa.

Sekian.

*tulisan ini diikutkan pada Lomba Menulis Kisah Nyata Dunia Maya .

Doakan semoga menang ya πŸ™‚

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

12 Comments

  • aulia June 19, 2011 at 9:16 am

    Judulnya saya kurangkan, yah? kepanjangan πŸ™‚

    Reply
    • admin June 19, 2011 at 4:16 pm

      Oke deh mbak πŸ™‚

      Reply
  • yoedha June 27, 2011 at 10:54 am

    wuiiiihhhh… πŸ™‚
    ahahahahaha.. πŸ˜€

    Reply
  • Amela June 30, 2011 at 12:07 pm

    wuih, semangat y mbak πŸ˜€

    Reply
    • admin July 1, 2011 at 9:31 pm

      hihi..iya, saking semangatnya tuh tulisan malah jadi berantakan kayaknya. Berantakan banget Bahasa Indonesianya -,-

      Reply
  • Bang Iwan July 1, 2011 at 10:02 am

    Mau dong dapat bukunya.

    Reply
    • admin July 1, 2011 at 9:26 pm

      boleh..boleh kontak via email aja untuk tau harganya πŸ˜€

      Reply
  • el-hajar July 8, 2011 at 11:58 pm

    request satu bukux……

    Reply
    • admin July 9, 2011 at 1:01 am

      wah, beneran nih? kalo mau pesan, kontak saya via email saja di andyhardiyanti[at]gmail[dot]com. oke?

      Reply
  • Rubby July 27, 2011 at 3:31 pm

    mbak, salam kenal dari saya Rubby, Palembang. boleh minta kontak (no hp pribadi)nya? untuk m’perpanjang tali silaturrahmi. tertarik sama booknya, btw brp hrganya? tlg emailkan no hp dan harganya ya!!!

    Reply
    • admin August 15, 2011 at 8:41 pm

      Salam kenal balik dari Makassar ^__^
      No.HP pribadi? nah lho :O
      Ntar saya PM ya.. Sip, website udah saya kunjungi balik.

      Reply
  • Rubby July 27, 2011 at 3:35 pm

    f1 ngetiknya ada yang salah, maksud sy website kami…
    oy, skalian deh minta profil detailnya dikirim sekalian ke email sy…!!!

    Reply

Leave a Comment